Jumat, 13 Mei 2016

Makalah materi akuntansi pertanggungjawaban_akuntansi manajerial






BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar belakang
Informasi akuntansi pertanggungjawaban merupakan salah satu tipe informasi akuntansi manajemen. Dalam membahas informasi akuntansi penuh, informasi akuntansi dihubungkan dengan objek informasi yang berupa produk, aktivitas atau unit organisasi dan dalam membahas informasi akuntansi diferensial, informasi akuntansi dihubungkan dengan alternatif yang akan dipilih. Dalam membahas informasi akuntansi pertanggungjawaban ini, informasi akuntansi di hubungkan dengan wewenang yang dimiliki oleh tiap-tiap manajer.
Menurut Samryn (2001:258). Akuntansi pertanggungjawaban sangat perlu diterapkan pada perusahaan/industri yang kegiatan operasi serta unit usahanya banyak, karena memungkinkan perusahaan untuk merekam seluruh aktivitas usahanya, kemudian mengetahui unit yang bertanggung jawab atas aktivitas tersebut serta menentukan unit usaha mana yang tidak berjalan secara efisien.
Akuntansi pertanggungjawbaan yang baik dalam penerapannya harus menetapkan atau memberi wewenang secara tegas, karena dengan wewenang ini akan menimbulkan adanya tanggung jawab. Akuntansi pertanggungjawaban juga merupakan bagian dari akuntansi manajemen yang mengumpulkan serta melaporkan informasi akuntansi untuk masing-masing pusat pertanggungjawaban, baik berupa rencana maupun yang sudah terjadi. Sedangkan laporan yang dihasilkan oleh pusat pertanggungjawaban disebut laporan pertanggungjawaban.
Sehubungan dengan itu, tujuan dibuatnya informasi akuntansi pertanggungjawaban adalah untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan.
              Dalam uraian konsep informasi akuntansi pertanggungjawaban di bahas definisi informasi akuntansi pertanggungjawaban, Pusat Pertanggungjawaban  (reponnsibility center), jenis-jenis pusat pertanggungjawaban, peran informasi dan akuntabilitas.
B.     Rumusan masalah
1.      Pengertian Akuntansi pertanggungjawaban?
2.      Karateristik dan penerapan informasi pertanggungjawaban?
3.      Jenis-jenis pertanggungjawaban?
4.      Peran informasi dan akuntabilitas?
C.     Tujuan masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian Akuntansi pertanggungjawaban.
2.      Untuk mengetahui karateristik dan penerapan informasi pertanggungjawaban.
3.      Untuk mengetahui jenis-jenis pertanggungjawaban
4.      Untuk mengetahui peran informasi dan akuntabilitas.

 








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Pusat Pertanggungjawaban (Respobility)
Akuntansi informasi pertanggungjawaban dapat di definisakan sebagai suatu sistem akuntansi manajemen yang diranjang atas konsep-konsep fundamental berikut ini.
1.      Standar untuk mengukur kinerja arus jelas. Harus di jelaskan dalam perusahaan dan harus dapat dicapai secara wajar.
2.      Individu-individu (manajer dan para pekerja lainnya) harus berpartisipasi dalam pembuatan ajuan yang akan di pakai untuk mengukur kinerja.
3.      Standar-standar harus di buat untuk semua tingkatan dalam perusahaan, dari manajemen puncak sampai tingkat pekerjaan public individual
4.      Setiap individu akan bertanggung jawab hanya pada bidang yang menjadi tanggung jawabnya.
5.      Sistem pelaporan akan mengutamakan hanya pada penyimpangan dari standar yang berarti saja (manajemen berdasarkan kekecualian).[1]
 Secara umum, sebuah perusahaan diatur menurut garis-garis pertanggungjawaban. Bagan organisasi tradisional, dengan bentuk piramidanya, mengilustrasikan garis pertanggungjawaban yang mengalir dari CEO turun melewati wakil presiden menuju manajer madnya dan manajer yang lebih rendah.
Seperti yang ditunjukkan oleh skenario yang mengawali bab ini, ketika ukuran organisasi bertambah besar, garis pertanggung jawaban ini akan menjadi lebih panjang dan lebih banyak. Struktur tradisional menjadi tidak praktis.
Praktik kontemporer saat ini bergerak menuju suatu hierarki yang datar. Structur ini, yang mengandalkan tim-tim kerja, konsisten dengan desentralisasi. GE Capital, sebagai contoh, pada intinya adalah suatu grup dari bisnis-bisnis yang lebih kecil. Terdapat hubungan yang erat antara sturktur organisasi dan system akuntansi pertanggungjawaban. Idealnya, system akuntansi pertanggungjawaban mencerminkan dan mendukung struktur dari sebuah organisasi.
Akuntansi pertanggungjawaban berdasarkan aktivitas adalah akuntansi yang dirancang untuk menelusuri biaya, pendapatan, laba dan investasi. Untuk unit-unit organisasi secara individual. Unit-unit organisasi dapat di golongkan menjadi empat yaitu pusat biaya, pusat pendapatan, pusat laa, dan pusat investasi. Akuntansi pertanggungjawabanerat dengan: (1) pengidentifikasian, tujuan pusat pertanggungjawaban, (2) pengembangan alat pengukur pencapaian tujuan, (3) penyusun laporan kinerja setiap pusat pertanggungjawaban.
Akuntansi pertanggungjawaban berdasarkan aktivitas adalah suatu sistem akuntansi pertanggungjawaban yang luas dan menggunakan pendekatan terintegrasi yang memusatkan perhatian manjemen pada aktivitas. Sitem ini menjalankan perusaan. Biaya yang digunakan untuk menghasilkan laporan-laporan tersebut merupakan biaya tidak bernilai tambah. Dengan mengeliminasi laporan-laporan yang tidak perlu, karyawan depertamen kuntansi dapat mengurangi atau menghemat biaya.
Contah aktivitas untuk menghasilkan laporan-laporan akuntansi yang tidak perlu menggambarkan butir penting bahwa aktivitas tidak bernilai tambah dapat terjadi dalam setiap organisasi. Dalam kegiatan pemanufakturan, lima aktivitas utama berikut ini sering merupak pemborosan dan tidak perlu yaitu:
1.      Penjadwalan. Penjadwalan adalah aktivitas yang menggunakan waktu dan sumber-sumber untuk menetukan kapan produk yang berbeda di proses, atau kapan dan berapa setiao yang harus dilaksanakan, dan berapa banyak yang harus diproduksi
2.      Pemindahan. Pemindahan adlah aktivitas yang menggunakn waktu dan sumber-sumber untuk memindahkan bahan mentah, barang dalam proses, dan produk selesai dari satu departemen ke lainnya.
3.      Penungguan. Penungguan adalah aktivitas yang menggunakan waktu dan sumber-sumber untuk menunggu bahan mentah atau barang dalam proses dipindahkan atau diolah pada proses berikutnya.
4.      Inspeksi. Inspeksi adalah aktivitas yang menggunakan waktu sumber-sumber agar produk sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan.
5.      Penyimpanan. Penyimpanan adalah aktivitas yang menggunakan waktu dan sumber-sumber jika bahan mentah, barang dalam proses produk selesai, atau barang lainnya disimpan sebagai persedian.
B.     Karateristik dan Penerapan Informasi Akuntansi Pertanggungjawaban
1.      Jenis-jenis Pusat Pertanggungjawaban
Pada saat perusahaan tumbuh, manajemen puncak biasanya menciptakan berbagai wilayah tanggung jawab yang dikenal sebagai pusat pertanggunjawaban, dan menugaskan manajer di bawahnya untuk menangani wilayah tersebut.
Pusat Pertanggungjawaban  (reponnsibility center) merupakan suatu segmen bisnis yang manajernya bertanggung jawab terhadap serangkaian kegiatan-kegiatan tertentu.
Akuntansi Pertanggungjawaban (reponnsibility center) adalah system yang mengukur berbagi hasil yang dicapai oleh setiap pusat pertanggungjawaban menurut informasi yang dibutuhkan oleh para manajer untuk mengoperasikan pusat pertanggungjawaban mereka. Ada empat jenis utama pusat pertanggungjawaban.
1.      Pusat biaya (cost center)
Suatu pusat pertanggungjawaban yang manajernya bertanggung jawab hanya terhadap biaya.[2]
2.      Pusat Pendapatan (revenue center)
Suatu pusat pertanggungjawaban yang manajernya bertanggung jawab hanya terhadap penjualan.
3.      Pusat Laba (profit center)
 Suatu pusat pertanggungjawaban yang manajernya bertanggung jawab terhadap pendapatan maupun biaya.
4.      Pusat Investasi (investment center)
Suatu pusat pertanggungjawaban yang manajernya bertanggung jawab terhadap pendapatan, biaya, dan investasi.
Cara pusat-pusat pertanggungjawaban dibebenkan mencerminkan situasi actual dan jenis informasi yang tersedia bagi manajer. Keempat pusat pertanggungjawaban dan jenis informasi yang diperlukan dalam mengelola pengoperasiannya.
Departeman produksi di dalam sebuah pabrik, seperti Perakitan atau Penyelesaian akhir, adalah contoh dari pusat biaya. Penyelia departemen produksi mengendalikan biaya manufaktur tetapi tidak mengatur harga atau membuat keputusan pemasaran. Karena itu, penyelia departemen produksi dievaluasi berdasarkan seberapa bil biaya produksi dikendalikan.
Manajer departemen pemasaran mengatur harga dan memproyeksi penjualan. Karena itu, departemen pemasaran dievaluasi sebagai pusat pendapatan. Biaya langsung departemen pemasaran dan penjualan keseluruhan adalah tanggung jawab manajer penjual. .
Pada akhirnya, divisi-divisi sering disebut sebagai contoh pusat investasi. Selain memiliki kendali atas biaya dan keputusan penetapan harga, manajer divisi juga memiliki kekuasaan untuk membuat keputusan-keputusan investasi, seperti penutupan dan pendirian pabrik, serta keputusan untuk menuruskan atau menghentikan suatu Lini produk. Oleh karena itu, baik laba operasi maupun beberapa jenis pengembalian atas investasi menjadi ukuran kinerja yang penting bagi para manajer pusat investasi.
Perlu disadari bahwa meskipun manajer pusat pertanggungjawaban memiliki tanggung jawab hanya atas kegiatan-kegiatan pada pusat pertanggungjawaban, keputusan yang dibuat oleh manejer tersebut mungkin mempengaruhi pusat pertanggungjawaban lainnya. Sebagai contoh, tenaga penjualan dari perusahaan pembuat produk perawatan lantai secara rutin menawarkan diskon harga pada setiap akhir bulan. Penjualan meningkat secara dramatis, dan hal baik bagi pendapatan dan tenaga penjualan. Akan tetapi, pabrik terpaksa melakukan kerja lembur untuk memenuhi permintaan; hal ini meningkatkan biaya pabrik begitu juga biaya per unit produk.

2.      Peran Informasi dan Akuntabilitas
Informasi memiliki peran penting agar para manajer bertanggung jawab terhadap hasil. Sebagai contoh, seorang manajer departemen produksi mungkin mempunyai tanggung jawab terhadap biaya departemen tetapi tidak terhadap penjualan. Hal ini karena manajer departemen produksi bukan hanya mengendalikan beberapa dari biaya tersebut, tetapi juga mengetahui dan memahaminya. Setiap penyimpangan antara biaya perkiraan dan actual dapat paling baik dijelaskan pada tingkat ini. Di lain pihak, penjualan adalah tanggung jawab manejer penjualan, karena manajer penjualanlah yang paling mampu menjelaskan dengan baik hal-hal yang terjadi berkaitan dengan harga dan jumlah yang terjual.
Tanggung jawab juga mencakup akuntabilitas. Akuntabilitas secara tidak langsung mencerminkan pengukuran kinerja, yang berarti bahwa hasil actual dibandingkan dengan hasil yang diperkirakan atau dianggarkan. System pertanggungjawaban, akuntabilitas, dan evaluasi kinerja seperti ini sering merujuk kepada akuntansi pertanggungjawaban karena peran penting yang dimainkan oleh ukuran dan laporan akuntansi tersebut di dalam proses.[3]
3.      Akuntansi Pertanggunjawaban Lingkungan Berbasis Strategi
Tujuan keseluruhan dari perbaikan kinerja lingkungan mengusulkan bahwa kinerja perbaikan berkelanjutan untuk pengendalian lingkungan adalah yang paling sesuai. Dalam kenyataannya, sebuah perspektif lingkungan kemungkinan adalah perspektif kelima dari kerangka kerja Balanced Scorecard menyebutkan contoh khusus di mana perusahaan menambahkan perspektif lingkungan ke dalam balanced scorecard mereka. Jika suatu pihak menerima paradigma ekoefisiensi, maka perspektif lingkungan dapat di terima karena perbaikan kinerja lingkungan dapat menjadi sumber dari keunggulan bersain (criteria untuk sebuah prespektif  akan dimasukkan). System manajemen lingkungan berbasis strategi (strategic-based environmental management system) menyediakan kerangka kerja operasional untuk memperbaiki kinerja lingkungan. Sebagai contohnya, prespektif lingkungan perlu dihubungkan dengan prespektif proses untuk memperbaiki kinerja lingkungan. Pengetahuan mengenai akar penyebab dari aktivitas lingkungan merupakan dasar untuk setiap perubahan desain proses yang dibutuhkan untuk memperbaiki kinerja lingkungan. Jadi, kerangka kerja balanced scorecard perbaikan kinerja lingkungan.
Ø  Perspektif Lingkungan
Kita dapat mengidentifikasi sekurang-kurangnya lima tujuan inti dari perspektif lingkungan:
1.      Maminimalkan penggunaan bahan baku atau bahan yang masih asli;
2.      Meminimalkan penggunaan bahan berbahaya;
3.      Meminimalkan kebutuhan energy untuk produksi dan penggunaan produk;
4.      Meminimalkan pelepasan residu padat, cair, dan gas; dan
5.      Memaksimalkan peluang untuk daur ulang.
Ada dua teman lingkungan yang terkait dengan bahan baku dan energy (tiga tujuan inti yang pertama). Pertama, tidak ada lagi energy atau bahan baku yang digunakan melebihi dari yang dibutuhkan (isu konservasi). Kedua, harus dicari sarana untuk menghilangkan penggunaan bahan baku atau energy yang merusak lingkungan (isu zat berbahaya). Ukuran kinerja harus mencerminkan kedua tema ini. Jadi, ukuran-ukuran yang memungkinkan adalah berapa jumlah kuantitas total dan perunit dari berbagai bahan bagu dan energy (misalnya, berat bahan kimia beracun yang digunakan), ukuran produktivitas  (output/bahan baku, output/energy), dan biaya bahan (energy) berbahaya yang dinyatakan sebagai persentase total biaya bahan baku.
Tujuan inti keempat dapat direalisasikan dalam salah satu dari dua cara berikut:
1.      Menggunakan teknologi dan metode untuk mencegah pelepasan residu, ketika diproduksi, dan
2.      Menghindari produksi residu dengan mengidentifikasi penyebab dasar dan mendesain ulang produk dan proses untuk menghilangkan penyebab-penyebabnya.
              Dari kedua metode tersebut, metode yang kedua lebih disukai. Metode pertama mirip dengan pemerolehan kualitas produk melalui pemeriksaan dan pengerjaan ulang (memeriksa kualitas). Pengalaman dalam manajemen kualitas telah menunjukkan bahwa pendekatan ini lebih mahal dari pada melakukan dengan benar pada saat pertama. Hasil ini sama dengan pengendalian residu pada saat diproduksi. Lebih masuk akal untuk menghindari residu dari pada melakukannya ketika residu telah diproduksi. Ukuran kinerja untuk tujuan ini mencakup berat limbah beracun yang diproduksi, volume pembuangan cairan, jumlah gas rumah kaca diproduksi, dan persentase pengurangan bahan baku pengemasan.
              Tujuan kelima menekankan konservasi sumber daya yang tidak dapat diperbarui melalui penggunaan kembali. Daur ulang mengurangi permintaan untuk ekstraksi tambahan bahan baku. Daur ulang juga mengurangi degradasi lingkungan dengan mengurangi pembuangan sampah oleh pemakai akhir. Ukurannya mencakup berat.
Ø  Peran Manajemen Aktivitas
  Analisis aktivitas lingkungan penting untuk system pengendalian lingkungan yang baik. Tentu saja, seperti yang telah diketahui, identifikasi aktivitas lingkungan dan penilaian biayanya merupakan persyaratan untuk perhitungan biaya lingkungan berbasis aktivitas. Pengetahuan mengenai biaya lingkungan dan produk atau proses apa yang menyebabkannya merupakan hal yang sangat penting sebagai langkah pertama untuk pengendalian. Selanjutnya, aktivitas lingkungan harus diklasifikasikan sebagai bernilai tambah (value-added) dan tak bernilai tambah (nonvalue-added).
Aktivitas tak bernilai tambah adalah aktivitas yang tidak perlu ada jika perusahaan beroperasi secara optimal dan efisien. Menarinya, porter van der linde menyatakan bahwa polusi lingkungan ekuivalen dengan ketidakefisienan ekonomi. Jika produksi limba ekuivalen dengan tidak ketidakefisienan ekonomi seperti yang mereka nyatakan, maka semua aktivitas yang gagal harus ditandai sebagai kegiatan tak bernilai tambah. Penggunaan paradigma ekoefisiensi mengimplikasikan bahwa selalu ada aktivitas yang secara simultan dapat menghindari degradasi lingkungan dan menghasilkan keadaan efisiensi ekonomi yang lebih baik daripada  keadaan yang sekarang. Tentu saja, aktivitas  yang gagal bukanlah satu-satunya aktivitas yang tak bernilai tambah. Banyak aktivitas deteksi seperti pemeriksaan juga merupakan aktivitas tak bernilai tambah.
Biaya lingkungan tak bernilai tambah adalah biaya dari aktivitas tak bernilai tambah. Biaya ini mewakili keuntungan yang dapat ditangkap dengan cara memperbaiki kinerja lingkungan. Kunci untuk menangkap keuntungan ini adalah dengan mengidentifikasi akar penyebab aktivitas yang tidak bernilai tambah dan kemudian mendesain ulang produk dan proses untuk meminimalkan dan akhirnya menghilangkan aktivitas yang tidak bernilai tambah tersebut.
Desain untuk Lingkungan pendekatan desain khusus ini disebut desain untuk lingkungan (design for the environment). Desain ini menyentuh produk, proses, bahan baku, energi dan daur ulsng. Dengan kata lain, keseluruhan daur hidup produk dan pengaruhnya terhadap lingkungan harus dipertimbangkan. Sebagai contoh, proses manufaktur sumber langsung dari berbagai residu padat, cair, dan gas. Banyak dari residu ini yang dillepaskan ke lingkungan. Sering kali, desain ulang suatu proses dapat menghilangkan produksi residu tersebut. Desain produk dapat juga mengurangi degradasi lingkungan.
Ukuran keuangan perbaikan lingkungan harus menghasilkan keuntungan keuangan yang signifikan.  Hal ini berarti bahwa perusahaan telah telah mencapai  trade-off yang menggunakan antara aktivitas yang gagal dan aktivitas pencegahan. Jika keputusan ekofisien yang dibuat, maka total biaya lingkungan yang harus terhapus bersamaan dengan perbaikan kinerja lingkunagan. Jadi tren biaya lingkunagan merupakan ukuran kinerja yang penting. Satu kemungkinan adalah mempersiapkan laporan biaya lingkungan yang tak bernilai tambah dari periode  berjalan dan membandingkan dengan periode sebelumnya. Kita perlu hati-hati dalam mengukur biaya dan tren. Pengurangan biaya harus terkait dengan perbaikan lingkungan dan bukan sekadar menghilangkan kewajiban terhadap lingkungan. Jadi, biaya kegagalan eksternal harus mencerminkan kewajiban tahunan rata-rata yang berasal dari efisiensi lingkunmgan saat ini. Oleh sebab itu, biaya pembersihan polusi air dalam tahun2005 merupakan biaya tahunan yang diharapkan dengan menganggap kinerja lingkungan saat ini tetap sama. Biaya pembersihan sebesar $900.000, misalnya, dapat menjadi jumlah tahunan yang harus disisihkan untuk mendapatkan dana total yang dibutuhkan untuk melakukan pembersihan lima tahun dari sekarang. Oleh karena tindakan diambil untuk memperbaiki kinerja lingkungan, maka jumlah pembersihan di masa depan dapat terhapus, sehingga mengurangi jumlah tahunan menjadi $700.000. dengan demikian, tren perbaikan sebesar $200.000 berhubungan dengan perbaikan kinerja lingkungan.
Kemungkinan  lainnya adalah dengan menghitung biaya lingkungan total sebagai persentase penjualan dan menelusuri nilai ini selama beberapa periode. Tampilan 12-10 mengilustrasikan grafik tren semacam ini. Grafik ini menarik karena menelusuri semua biaya lingkungan dan bukan hanya biaya lingkungan yang tak bernilai tambah. Jika keputusan ekoefisien yang dibuat, kita perlu mengamati pengurangan total biaya lingkungan. Hal ini berarti terdapat trade-off yang menguntungkan antara investasi untuk aktivitas pencegahan yang berhubungan dengan lingkungan dan pengurangan biaya kegagalan lingkungan. Tren-nya harus mengarah kebawah, sejalan dengan dibuatnya investasi ekoefisien.
Ilustrasi grafik lainnya untuk area tertentu dapat juga menunjukkan kemajuan yang dibuat. Sebagai contoh, grafik batang dapat digunakan untuk menunjukkan jumlah total polutan yang dilepaskan setiap tahun. Tren ke arah bawah merupakan indikasi yang diharapkan. Bagan lingkaran dapat juga berguna. Sebagai contoh, bagan lingkaran menampilkan secara nyata pengelolaan limbah berbahaya menurut kategorinya: persentase pembakaran sampah, persentase daur ulang sampah, persentase sampah yang dibuang ke tanah terbuka, persentase sampah yang diolah, dan persentase sampah yang dikubur.[4]






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Akuntansi informasi pertanggungjawaban dapat di definisakan sebagai suatu sistem akuntansi manajemen yang diranjang atas konsep-konsep fundamental.
Akuntansi pertanggungjawaban berdasarkan aktivitas adalah akuntansi yang dirancang untuk menelusuri biaya, pendapatan, laba dan investasi. Untuk unit-unit organisasi secara individual. Unit-unit organisasi dapat di golongkan menjadi empat yaitu pusat biaya, pusat pendapatan, pusat laa, dan pusat investasi. Akuntansi pertanggungjawabanerat dengan: (1) pengidentifikasian, tujuan pusat pertanggungjawaban, (2) pengembangan alat pengukur pencapaian tujuan, (3) penyusun laporan kinerja setiap pusat pertanggungjawaban.
Contah aktivitas untuk menghasilkan laporan-laporan akuntansi yang tidak perlu menggambarkan butir penting bahwa aktivitas tidak bernilai tambah dapat terjadi dalam setiap organisasi. Dalam kegiatan pemanufakturan, lima aktivitas utama berikut ini sering merupakan pemborosan dan tidak perlu yaitu meliputi penjadwalan, Pemindahan, penungguan, inspeksi, dan penyimpanan.
Selain itu dalam akuntansi informasi pertanggungjawaban terdapat karateristik dan informasi penerapan akuntansi pertanggungjawaban yang meliputi jenis-jenis pusat pertanggungjawaban terdiri dari empat jenis utama pusat pertanggungjawaban. (1) pusat biaya (cost center), (2) Pusat Pendapatan (revenue center), (3) Pusat Laba (profit center), (4) Pusat Investasi (investment center).




DAFTAR PUSTAKA
Don R. Hansen. Akuntansi Manajemen. Edisi 7, (Jakarta: Salemba Empat, 2015
Supriyono. Akuntansi biaya dan Akuntasi manajemen. Edisi 1, (Yogyakarta:BPFE, 1994),
Don R. Hansen. Akuntansi Manajemen. Edisi 7, (Jakarta: Salemba Empat, 2015),






[1]Prof. Drs. H. Lili M. Sadeli M.pd. Akuntansi Manajemen . Cet. Ke 2, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001),  h. 179
[2] Supriyono. Akuntansi biaya dan Akuntasi manajemen. Edisi 1, (Yogyakarta:BPFE, 1994), h. 469-470
[3]Don R. Hansen. Akuntansi Manajemen. Edisi 7, (Jakarta: Salemba Empat, 2015), h. 116-117
[4]Ibid., h. 85-89